Burnout? Better Watchout!

Belajar Menyeimbangkan Peran bersama Bunda Arsaningsih.
(English version below)

“Sebagai seorang pengusaha, istri, dan ibu, saya sering merasa lelah. Namun, setelah berdiskusi langsung dengan Bunda Arsaningsih, saya belajar bahwa kunci keseimbangan bukan terletak pada ‘melakukan lebih banyak,’ melainkan ‘melepaskan lebih banyak’.”

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan untuk berkolaborasi melalui TikTok Live dengan Bunda Arsaningsih. Dalam momen itu, saya memberanikan diri untuk curhat tentang beban yang selama ini saya pikul.

Sebagai pengusaha yang juga memiliki kewajiban sebagai istri dan ibu, hari-hari saya seringkali terasa seperti perlombaan yang tak kunjung usai. Saya bertanya kepada Bunda: “Manusiawi kan, jika saya ingin yang terbaik dalam pekerjaan dan hidup? Wajar kan, jika saya ingin usaha saya dihargai oleh orang lain?”

Ternyata, keinginan untuk menjadi sempurna itulah yang membuat saya burnout dan sering lupa akan prioritas utama. Jawaban Bunda sangat dalam, menyentuh, dan membuka mata saya. Berikut adalah intisari dari apa yang Bunda bagikan untuk kita semua:

1. Mulai dari Self-Love (Mencintai Diri Sendiri)

Bunda mengingatkan saya bahwa kita tidak bisa menuangkan air dari gelas yang kosong. Burnout adalah tanda bahwa kita telah mengabaikan diri sendiri. Mencintai diri sendiri bukanlah egois; itu adalah fondasi agar kita punya energi untuk melayani perusahaan, karyawan, dan keluarga dengan kualitas terbaik.

2. Menjalankan dengan Ikhlas

Seringkali kita merasa lelah bukan karena pekerjaannya, tapi karena resistensi batin kita terhadap pekerjaan tersebut. Bunda mengajarkan untuk menjalankan setiap peran: baik sebagai bos, istri, maupun ibu; dengan keikhlasan penuh. Saat kita ikhlas, beban di pundak seolah luntur.

3. Melepas Keterikatan (Detachment)

Ini adalah poin yang paling menampar ego saya. Saya sering merasa lelah karena saya terikat pada hasil dan terikatpada pengakuan orang lain. Bunda menekankan pentingnya melepas keterikatan. Lakukan yang terbaik, berikan effort maksimal, namun lepaskan hasilnya pada Semesta.

4. Ber-Kriya: Mengalir Selaras dan Harmonis

Bunda menggunakan istilah yang indah: Ber-Kriya (ber-manifest). Hidup seharusnya berjalan seperti air yang mengalir. Jika kita mencoba mengatur setiap detail dengan kontrol penuh (ego), kita akan lelah. Namun, saat kita selaras, segalanya berjalan mengalir, harmonis, dan penuh kemudahan.

5. Bersyukur dan Berserah

Pada akhirnya, setelah berusaha sekuat tenaga, kita harus tahu kapan harus berhenti dan berserah. Bersyukur atas apa yang sudah dicapai, dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan atas apa yang belum terwujud. Inilah rahasia menuju Bahagia Sepuluh.


Pelajaran untuk Kita Semua

Setelah perbincangan itu, saya sadar bahwa work-life balance bukanlah tentang membagi waktu secara matematis, melainkan tentang menjaga kejernihan jiwa (SOUL) di setiap peran yang kita jalani.

Jika hari ini Anda merasa burnout, mungkin saatnya berhenti sejenak, tarik napas, dan tanyakan pada diri sendiri: “Apakah saya sedang berjalan dengan ego, atau saya sedang mengalir dengan jiwa?”

Terima kasih Bunda Arsaningsih atas bimbingannya. Semoga teman-teman pembaca blog Bahagia Sepuluh juga bisa merasakan kedamaian yang sama.

Apakah Anda juga seorang ibu pengusaha yang sedang berjuang dengan prioritas? Mari berbagi cerita di kolom komentar!


“As an entrepreneur, a wife, and a mother, I have often felt exhausted. But after a heartfelt discussion with Bunda Arsaningsih, I learned that the key to balance isn’t about ‘doing more,’ but about ‘letting go more’.”

Recently, I had the incredible opportunity to collaborate via TikTok Live with Bunda Arsaningsih. I took that moment to be vulnerable and share the burden I had been carrying.

As an entrepreneur who also wears the hats of a wife and a mother, my days often felt like an endless race. I asked Bunda: “Is it human to always want the best in our work and life? Is it natural to want others to appreciate every effort we’ve made?”

Deep down, I knew the answer, but the desire for perfection was leading me straight to burnout. Bunda’s response was profound, grounded, and life-changing. Here are the core takeaways she shared for us all:

1. Start with Self-Love

Bunda reminded me that you cannot pour from an empty cup. Burnout is a sign that we have been neglecting ourselves. Loving yourself isn’t selfish; it’s the foundation that allows you to serve your company, your employees, and your family with the highest quality of love and energy.

2. Move with Sincerity (Ikhlas)

Bunda taught me that we often feel tired not because of the work itself, but because of our internal resistance toward it. She encouraged me to fulfill every role: as a boss, a wife, and a mother; with total sincerity. When we are sincere, the weight on our shoulders seems to dissolve.

3. Release Attachment (Detachment)

This was the point that hit my ego the hardest. I realized I was exhausted because I was attached to the results and attached to external validation. Bunda Arsangingsih emphasised the importance of detachment. Do your best, give your maximum effort, but surrender the outcome to the Universe.

4. Living in “Kriya”: Flowing in Harmony

Bunda shared a beautiful concept: Ber-Kriya (to manifest). If we try to micromanage every detail with our ego, we will inevitably tire out. But when we are aligned, everything flows, harmonising effortlessly.

5. Gratitude and Surrender

Ultimately, after giving our best effort, we must know when to stop and surrender. Be grateful for what has been achieved, and surrender completely to God for what is yet to come. This is the secret path to Bahagia Sepuluh (Perfect Bliss).


A Lesson for Us All

After our talk, I realized that work-life balance isn’t just about dividing time mathematically; it’s about maintaining the clarity of our SOUL in every role we play.

If you are feeling burnout today, perhaps it’s time to pause, take a deep breath, and ask yourself: “Am I moving with ego, or am I flowing with my soul?”

Thank you, Bunda Arsaningsih, for your wisdom. May all the readers of Bahagia Sepuluh find that same peace.

Are you an entrepreneur-mom struggling with priorities? Let’s share our stories in the comments below!

Posted in

Leave a comment